Tak
terasa umat islam telah memasuki babak penghujung Ramadhan. Ibarat
sebuah perlombaan, garis finis sudah terlihat, pada hakikatnya, Ramadhan
memang merupakan momen kompetisi, berlomba melawan hawa nafsu, umat
islam, khususnya mereka yang konsisten berpuasa, diharuskan berlomba
dengan dirinya sendiri, yakni dengan hawa nafsunya, tentu hanya ada dua
kemungkinan, dirinya sebagai keseluruhan yang menang atau hawa nafsunya
yang berjaya, sangat mudah untuk mengukur menang dan kalah tersebut,
jika ba’da Ramadhan terjadi perubahan pola pikir dan prilaku pada
dirinya, maka berarti dirinya sebagai keseluruhan yang menang, akan
tetapi, jika pasca ramadhan pola pikir dan prilakunya tidak berubah
lebih baik, maka berarti nafsunya yang berjaya di panggung pertarungan,
secara ideal, ramadhan sebagai bulan paling istimewa dalam islam,
bertujuan memantik perubahan prilaku, hal itu akan terjadi bila kaum
muslim benar – benar memahami tata cara dan fungsi puasa, serta
mengaplikasikan konsep ideal puasa secara keseluruhan.
Jika konsep ideal puasa tidak diterapkan secara utuh, maka pasti yang
terjadi adalah pelanggaran prilaku, artinya banyak perintah dalam bentuk
perbuatan, baik secara spesifik berkaitan dengan puasa maupun tidak,
yang dilanggar oleh orang berpuasa, pada posisi ini terjadi penyimpangan
prilaku, prilaku ideal yang diwajibkan selama berpuasa justru
dilanggar, bahkan bukan hanya dilanggar, malah muncul prilaku yang
berlawanan dengan prilaku ideal tersebut, sebagai contoh sederhana,
banyak orang berpuasa sekadar menahan lapar dan haus.
Namun ke lima panca inderanya tetap intens terlibat dosa, intens
meakukan perbuatan salah, gejala penyimpangan prilaku selama ramadhan
memang bukan sesuatu yang baru, hal tersebut hampir selalu terjadi
setiap ramadhan tiba, namun menganggap fenomena tersebut sebagai hal
lumrah, adalah bukan tindakan tepat, anggapan seperti itu justru
berpotensi memapankan kesalahan, ujungnya sudah dapat ditebak,
kesempatan mengubah diri selama ramadhan akan hilang begitu
Menghilangkan penyimpangan prilaku selama ramadhan, memang bukan perkara
mudah.
Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh manusia yang menjalankan puasa,
namun hal tersebut juga bukan sesuatu yang mustahil, sebab Allah tidak
mungkin menurunkan perintah yang mustahil dikerjakan hamba-Nya,
penyimpangan prilaku dalam berpuasa, hanya bisa dihindari dengan
menjalankan puasa secara utuh, atau minimal mendekati utuh, namun puasa
yang mendekati utuh hanya mampu meminimalisir penyiimpangan tersebut,
berpuasa secara utuh bisa dimulai dengan memahami konsep puasa secara
menyeluruh, dalam hal ini, selain dibutuhkan usaha dari orang yang
berpuasa, juga dibutuhkan peran para juru dakwah, serta siapa saja yang
memahami konsep utuh tentang puasa, agar memberikan pemahaman kepada
mereka yang masih awam, sebab akan sangat susah berbicara tentang
kesadaran prilaku, bila sebelumnya tidak hadir perubahan pola pikir.
Sedangkan perubahan pola pikir hanya bisa muncul dari pemahaman yang
utuh tentang Memang tidak bisa dipungkiri, terdapat beberapa orang yang
berpuasa, dan mereka telah paham dengan konsep puasa secara utuh, namun
prilakunya masih sering melabrak aturan puasa, khususnya yang berkaitan
dengan perintah dan larangan tertentu, disini dibutuhkan peran kesadaran
dari bersangkutan, ingat kesadaran bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi
sesuatu yang diusahakan, sehingga tidak tepat bila ada orang berasumsi
bahwa dirinya belum sadar karena hidayah belum datang, hidayah adalah
sesuatu yang harus diusahakan, orang harus berusaha untuk sadar,
menjalankan puasa secara utuh terbilang sangat mendesak, sebab ia
merupakan jaminan guna menghilangkan penyimpangan prilaku terhadap
ramadhan, bila prilaku manusia berpuasa selalu menyimpang dari aturan
ramadhan, maka perubahan karakter tidak akan kita jumpai ba’da ramadhan,
terlalu bodohlah kita sebagai manusia bila kesempatan untuk berubah,
terpampang di depan mata, namun kita mengabaikannya.